Digitalisasi sebagai imbas dari perubahan teknologi (terutama informasi) yang semakin canggih mampu mengubah hampir semua aspek kehidupan, termasuk aspek wirausaha. Bagi sebagian pihak disrupsi adalah sebuah threats, namun bagi pihak yang melihat potensi akan menjadikannya sebagai peluang.

Era disrupsi dalah zaman dimana hampir semua tatanan kehidupan mengalami inovasi sebagai akibat munculnya inovasi teknologi. Dukungan dari semua orang menyambut adanya era disrupsi ini sudah tidak lagi dipandang sebelah mata, terutama bagi generasi Z yang rata-rata lahir di antara rentang 1995-2014. Mereka melihat disrupsi adalah era baru dimana semua aspek seolah dilombakan untuk menciptakan sesuatu hal yang baru, praktis, modern yang dikemas sedemikian rupa sehingga benar-benar menjadi sebuah inovasi yang dapat langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Terjadinya era disrupsi ketika new innovation masuk ke pasar dan menciptakan efek disrupsi yang cukup kuat sehingga mengubah matrket structure yang sebelumnya.

Pergeseran segmen konsumen sebelum generasi Z, adalah generasi X kini menjadi generasi milenial membutuhkan inovasi dari berbagai aspek termasuk service. Contoh kecil yang dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari bahkan sampai ke daerah pelosok pun imbas dari era disrupsi ini benar-benar dapat dinikmati sebagai sebuah fenomena yang layaknya sudah menjadi kebutuhan primer. Anda tidak perlu berdesak-desakan di pasar membeli kebutuhan rumah tangga, Anda tidak perlu meluangkan waktu untuk beburu diskon di mall, antri di rumah makan, berdesak-desakan di bus kota atau angkot, menunggu surat berhari-hari dari yang terspesial. Dengan bermodalkan gadget dan internet semua bisa dengan mudah didapatkan. Semula yang pada zamannya dilakukan secara manual kini dengan era disrupsi Anda bisa menikmati jawaban yang selama ini dirasakan menjadi hambatan hidup seperti munculnya ojek online, online shop, tiket online, teleconference, semua digagas oleh inovasi dalam IT. Tidak sedikit pula era disrupsi yang saat ini memberikan manfaat lebih nyata menimbulkan efek negatif, contoh fenomena yang terjadi adalah adanya konflik antara ojek pangkalan dengan ojek online, jasa taksi vs taksi online, dan berbagai marketplace online yang cukup mengubah tren jual beli untuk beberapa produk seperti telepon genggam.

Tantangan berat bagi dunia bisnis selain menghadapi pesaing potensial yang unggul di bidang kualitas produk, saat ini melalui media sosial harus benar-benar menjadi celah partner menjadikan era disrupsi ini sebagai keuntungan bagi para market leader. Sehingga jelas disruption era ini bisa menjadikan sebuah hambatan dan sekaligus keuntungan bagi para pelaku bisnis yang tidak hanya bersaing di dalam negeri saja namun produk-produk luar negeri bisa dengan mudah didapatkan oleh masyarakat di manapun. Mau tidak mau setiap business unit harus siap merubah konsep marketing-nya dengan business model karena pergeseran marketing sudah terjadi, sudah waktunya berubah jika ingin perusahaannya tetap survive.

Apa saja keuntungan bagi para pelaku bisnis dalam menghadapi era disrupsi ini?

  1. Cost efficince, semua serba dilakukan melalui daring tidak memerlukan banyak keluar biaya dan bahkan lebih praktis
  2. Product quality yang lebih baik, setiap perusahaan dituntut untuk menciptakan produk yang benar-benar memiliki value dan bisa bersaing dengan produk sejenis lainnya. Jika produk tersebut dirasa jelek, pengguna produk dengan cepat menyebarkan isu negatif tentang produknya yang berimbas pada penurunan target penjualan.
  3. Mampu menciptakan new market, bahkan tidak dibatasi oleh wilayah lokal saja namun dengan mudah bisa memasarkannya ke pasar internasional.
  4. Accesibility, produk lebih mudah didapatkan oleh konsumen dari berbagai segmen melalui berbagai akun media sosial/ online shop/ e-marketing
  5. Effectiveness. Mampu memanfaatkan daring menjadi lebih hemat waktu dan akurat.

Bagaimana cara kita menghadapi pergeseran di era disrupsi ini agar bisa tetap berdaya saing?

  1. Jadikan era disrupsi ini menjadi keuntungan bagi bisnis meski nyatanya masih banyak pelaku bisnis yang menjadikan era disrupsi sebagai hambatan bagi bisnis. Dengan beradaptasi mampu melihat needs and want dari segmen pasar yang beragam, maka kita bisa mengambil keuntungan dari era ini. Artinya jangan pernah berhenti berinovasi, dimana market dipastikan memiliki selera yang selalu mengalami perubahan karena perkembangan.
  2. Jangan ragu menggunakan media sosial sebagai alat promo tools. Perusahaan dari berbagai bidang perlu menerapkan teknologi baru agar mampu menciptakan konsep business model yang dapat memberikan value yang lebih besar bagi para customer sehingga mampu mengalahkan lawan yang justru di era disrupsi ini tidak terlihat jelas siapa lawan kita. Mereka hanya mengandalkan media daring menyampaikan kekuatan melalui visual dan deskripsi produk yang mereka jual. Customer memiliki hak dalam memilih produk yang menawarkan berbagai kelebihan, baik dari sisi harga, kepraktisannya, kemudahan pembayarannya, dan kecepatan jasa tersebut, sehingga perusahaan harus benar-benar memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas produk/jasa perusahaan Anda. Dominasi pangsa pasar Generasi Milenial dan Generasi Z dipastikan teknologi menjadi pertimbangan penting dalam decision making bagi kebutuhan mereka.
  3. Gunakan Product Life Cycle (PLC) sebagai rancangan pertahanan suatu produk. Tahapan PLC yaitu introduction (perkenalan), growth (pertumbuhan), maturity (pematangan), dan decline (penurunan). Ketika produk perusahaan sudah dalam tahapan growth, bagaimana caranya agar perusahaan Anda tidak kembali ke tahap awal apalagi di era disrupsi saat ini semua hal bisa berubah dengan cepat. Mungkin perusahaan-perusahaan lain akan mulai mampu menarik pasar baru melalui produk-produk baru yang mereka hasilkan sebagai pesaing potensial kita. Intinya tetap mewaspadai inovasi yang akan dihasilkan produk pesaing.
  4. Ciptakan penyediaan layanan yang dapat berorientasi pada konsumen. Misalnya program loyalty, discount, kemudahan dalam pembayaran, menyediakan layanan customer service yang solutif dan cekatan. Tidak cukup hanya mengandalkan media internet saja untuk selling namun customer relationship daring juga menjadi pelengkap dan nilai tambah di era disrupsi saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here